Oleh Angin Kamajaya
Sejak awal dibentuk dua tahun lalu, Semaan Puisi kami jadikan sebagai tempat pelarian dan healing dari bisingnya gadget dan dunia digital. Kami rehat sejenak setiap malam jumat atau kamis malam dimulai pada pukul 20.00 wib sampai jenuh. Kami melarikan diri dari kebisingan dan penjajahan media sosial dan lari ke dalam dunia puisi.
Ini pelarian yang tidak mudah. Sebab kami malah berkumpul dan belajar dari puisi, membaca biografi, dan semacam menggali kubur serta menziarahi para penyair yang sudah wafat. Minggu ini, Semaan Puisi memasuki episode ke 100, artinya kami sudah berjalan sebanyak 100 minggu. Dari 100 episode yang tercapai, delapan diantaranya adalah penyair yang masih hidup. pemilihan terhadap yang hidup maupun yang sudah tidak ada, bukan karena tema, atau apapun, tetapi murni karena intuisi Semaan Puisi semata yang berjalan setiap minggunya.
Pada edisi ke 100 ini, Semaan Puisi menjadi terasa spesial, hal ini, karena Semaan Puisi dilangsungkan dua kali. Pertama, dilangsungkan sebagai mana biasa di malam jumat. Kedua, Semaan Puisi di langsungkan di Kota Serang Banten, di Keraton Kaibon pada hari sabtu ini 25 Oktober 2025 mulai pukul 15.30 – 20.30 wib. Ketiga, kami memilih Totot St. Radik, penyair yang merupakan anak kandung Banten.
Anda tahu Banten? Daerah yang kaya sejarah, tempat gunung bertemu laut. Tapi Banten yang dilihat oleh Toto St. Radik dalam puisinya bukanlah Banten yang muluk-muluk di brosur pariwisata. Penyair seperti Toto ini penting karena ia mewakili suara dari pinggiran yang kritis, bukan hanya suara dari Cikini atau Menteng.
Kita ini seringkali hanya memandang sastrawan yang hijrah ke Jakarta atau ke luar negeri, lalu menulis tentang kegelisahan kosmopolitan (yang isinya cuma soal macet dan harga kopi mahal).
Toto St. Radik, lahir di Desa Singarajan, Serang, Banten, dan hingga kini beliau masih setia di Kota Serang. Kesetiaan ini yang mahal.
Karena Toto tinggal di sana, dia tidak hanya menulis tentang Banten secara teoretis. Dia melihat sendiri "angin nyaris mati" dan "muara yang tak kunjung tanak" di Karangantu. Dia melihat penderitaan itu secara langsung, ibarat seorang dokter yang tidak hanya membaca rekam medis, tapi juga mencium bau obat dan melihat langsung pasiennya meringis.
Toto tidak lari. Dia mengkritik masalah Politik, Moral, dan Kemanusiaan dari dalam dapur birokrasi dan dari tanah kelahirannya. Ini membuktikan bahwa keberanian itu tidak harus dicari di demonstrasi ibukota, tapi bisa lahir dari meja kerja seorang PNS di Serang. Dia menancapkan puisinya di tanah Banten, membuat karyanya punya akar yang kuat—tidak mudah dicabut oleh angin mainstream.
Konflik Batin yang menjadi amunisi kritik Toto PNS vs. Toto Penyair menjadi bumbu utama yang membuat Toto St. Radik sangat menarik: Kehidupan Ganda-nya.
Bagaimana mungkin seorang PNS (yang seharusnya mengabdi pada sistem dan prosedur) di saat yang sama menjadi Penyair Nan Sipil yang puisinya terinspirasi dari gaya protes Rendra?
Karena pernah menjadi abdi negara dan kini pensiun, Toto adalah saksi hidup bagaimana dapur sistem itu bekerja, bagaimana proposal disusun, dan bagaimana janji kesejahteraan rakyat hanya menjadi jargon yang menempel di slideslide raksasa.
Puisinya, seperti Apakah Negara? yang dominan berisi kritik politik, tidak lahir dari ilusi atau katanya. Tapi lahir dari pengalaman pahit di dalam sistem. Dia tahu di mana letak kebobrokan, dan dia menyampaikannya dengan diksi yang tajam, jauh lebih tajam daripada kolom opini yang panjangnya minta ampun. Dia menggunakan puisinya sebagai alat untuk memuntahkan realitas, bahkan ketika realitas itu terjadi jauh di Selat Johor, ia tetap merasa "tubuhku pun meletup".
Dia mendedikasikan dirinya selama 40 tahun berkarya. Empat puluh tahun, Saudara! Itu bukan hobi akhir pekan. Itu adalah pilihan hidup yang keras kepala.
Di saat kebanyakan orang akan menyerah pada tantangan finansial yang melanda penyair, dia memilih tekun dan setia.
Filosofinya jelas, dan ini patut kita kutip, karena ini adalah pelajaran bagi semua orang yang ingin lari dari zona nyaman:
“Menjadi penulis, apalagi penyair itu tidak mudah. Terutama dari sisi finansial. Tapi jika kita tekun dan setia pada akhirnya bakal menemukan jalan kebahagiaan. Lagi pula ukurannya bukan finansial semata. Kalau suka jangan gampang menyimpang. Kalau cinta jangan gampang berpaling,”
Inilah alasannya, Saudara. Semaan Puisi Episode 100 kami memilih Toto St. Radik karena dia adalah cermin: Cermin seorang budayawan daerah yang menolak kompromi, yang menggunakan jabatannya sebagai mata-mata sastra untuk mengumpulkan amunisi, dan di usia senjanya, dia melepaskan belenggu birokrasi demi menjadi Penyair Nan Sipil yang benar-benar independen.
Dia membuktikan, cinta pada kampung halaman itu tidak diukur dari seberapa sering kita memuji, tapi seberapa berani kita menamparnya dengan kebenaran. Dan Toto St. Radik adalah jagonya dalam hal itu.
Oleh karena itu, mari kita rayakan kesetiaan Toto St Radik bersama Semaan Puisi pada Sabtu, 25 Oktober 2025, mulai pukul 15.30 – 21.00 wib, di Keraton Kaibon, Kota Serang, Banten. Semaan Puisi juga akan menghadirkan Jamal D Rahman yang akan memberikan orasi budaya sebagai sambutan atas kesetiaan Toto St Radik dan Banten yang banyak melahirkan Cendekiawan serta Budayawan. Mari bersemaan.
Demikian. Sekian. Terimakasih.
CAG!
Aku Cinta Padamu
Angin Kamajaya, penulis biografi di Semaan Puisi.