USMAN AWANG: “TONGKAT WARRANT”, PENYAIR JIWA RAKYAT

 


Oleh Angin Kamajaya

Wan Osman Wan Awang adalah sastrawan penting Melayu yang kemudian lebih dikenal dengan nama Usman Awang. Ia lahir pada 12 Juli 1929 di Kampung Tanjung Lembu, Kuala Sedili, Kota Tinggi, Johor. Ayahnya bekerja sebagai nelayan sekaligus penjual rotan; kehidupan pesisir yang keras, laut yang tak pernah sepenuhnya ramah, serta musim tengkujuh yang panjang dan mengguncang, menjadi lanskap awal yang membentuk pengalaman batin Usman Awang sejak kanak-kanak. Dari dunia pesisir inilah ia pertama kali belajar tentang keteguhan, kehilangan, dan ketergantungan manusia pada nasib serta alam.

Ayah sastrawan Usman Awang meninggal ketika ia masih sangat kecil, sang ibu mengambil peran ayahnya berjuang keras, menjadi tempat bergantung satu-satunya. Usman pernah bercerita bagaimana ia melewati hari-hari tanpa makan yang layak, tidur beralaskan tikar keras, dan memandang kehidupan dari jarak yang paling pedih. Namun justru dari situlah tumbuh kepekaan yang kelak menjadi inti kepenyairannya: dia mengerti suara orang kecil, karena ia sendiri lahir dari keheningan mereka.

Pendidikan formal Usman Awang ditempuh hingga tingkat sekolah dasar di beberapa tempat: Kuala Sedili (1936), Mersing (1937), dan Bandar Maharani, Muar (1940), hingga lulus darjah VI. Lingkungan sosial yang keras, kemiskinan struktural, dan keterbatasan akses pendidikan tidak melemahkan kesadarannya, justru menumbuhkan watak manusia-awam yang kuat dalam dirinya. Pengalaman hidup itulah yang kelak menjadi fondasi ideologis sekaligus estetik dalam kesusastraannya. Ia tumbuh sebagai pribadi yang mengalami secara langsung getar realitas: ketidakadilan, kemiskinan, keterpinggiran, dan penindasan yang dialami rakyat kecil.

Terkait dengan kepekaan dan kepegulian Usman Awang terhadap kondisi negara kelahirannya, Zarif Asyraf, dalam tulisannya mengutip pidato Pidato Penerimaan Anugerah Sasterawan Negara pada tahun 1983 yang bertajuk “Suara Kemanusiaan Seorang Pengarang’’. Berikut saya kutip sebagaimana terpublikasikan dalam kanal Lestari Hikmah: 

“Harapan saya kini ialah agar tenaga baru dan suasana baru dalam negeri ini akan ditujukan kepada masalah-masalah besar seperti kemiskinan. Sungguh menyedihkan bahawa dalam sebuah negara yang kaya-raya hasil buminya, rakyatnya kaya dengan kemiskinan. Sungguh menyedihkan bahawa kawasan luar bandar masih mundur, sekolah-sekolah serba kekurangan, murid-murid serba ketiadaan dan perubatan serta doktor tidak berkecukupan. Sungguh menyedihkan bahawa kanak-kanak miskin masih banyak yang cicir dalam pelajaran, dan alangkah pilunya hati apabila hanya sebilangan kecil sahaja kanak-kanak perempuan yang dapat mengembangkan kebolehan mereka sepenuhnya dalam segala bidang pendidikan.

Bolehkah kita semua bersama-sama mengatasi segala masalah ini? Dan tidak kurang daripada semua ini, saya bermohon menyuarakan harapan agar korupsi, pilih kasih dan segala penyelewengan dalam bentuk apa pun yang menjadi beban serta merugikan rakyat dapat dihapuskan.”

***

Memasuki usia remaja, Usman Awang bekerja serabutan, ia menjadi buruh dan menjalani berbagai pekerjaan kasar sebelum akhirnya bergabung dengan pasukan polis pada masa darurat Malaya. Perjumpaan dengan berbagai wajah kehidupan: penindasan kolonial, ketegangan politik, perjuangan bersenjata, serta kisah-kisah sederhana rakyat jelata yang terjebak di antara kekuasaan dan sejarah, menjadi “sekolah” sesungguhnya baginya. Di sanalah Usman Awang belajar membaca manusia, kekuasaan, dan luka sosial.

Pada dekade 1950-an, Usman Awang mulai terjun ke dunia literasi dan jurnalisme. Dalam puisi dan esai-esainya ia menggunakan nama pena “Tongkat Warrant”. Kata “tongkat” yang disematkan padanya bukan sekadar nama samaran, melainkan simbol sikap: tongkat sebagai penopang bagi yang tertatih, sebagai alat bantu bagi mereka yang lemah dan disingkirkan. Nama itu sejalan dengan seluruh visi kepenyairannya—bahwa sastra harus berpihak. Karya-karyanya terus menyuarakan kegelisahan identitas, kemiskinan, dan masa transisi sosial masyarakat Melayu pascakolonial. Ia menyadari bahwa sastra bukanlah perhiasan kata, melainkan alat kritik, kesaksian, dan refleksi sosial. Karena itu, puisi, novel, dan naskah dramanya berbicara lantang tentang nasib buruh, petani, dan rakyat kecil, sekaligus menggugat keadilan, hak asasi, dan martabat manusia.

Bahasa yang digunakannya bukan bahasa istana, melainkan bahasa jalan, pasar, dan kampung. Usman Awang mampu menjalin pantun lama, syair, serta ragam Melayu klasik dengan tema-tema modern seperti nasionalisme, kemanusiaan, dan kesetaraan. Dari perpaduan itulah puisinya terasa akrab dan membumi—dekat dengan pengalaman pembaca lintas lapisan sosial, bukan hanya kalangan elit literer. Bahasa baginya bukan alat pemisah, melainkan jembatan.

Selain puisi, Usman Awang juga produktif menulis drama, cerpen, dan novel. Ia hadir sebagai seniman besar yang menolak menjadikan sastra sebagai wilayah eksklusif, sebaliknya memosisikannya sebagai jembatan antara kebudayaan, politik, dan suara rakyat. Dalam keseluruhan karyanya, tampak jelas satu benang merah: keberpihakan etis kepada manusia yang dilukai sejarah.

Warisan karyanya luas dan beragam: puisi, drama, novel, cerpen, serta artikel. Salah satu karya pentingnya adalah novel Tulang-Tulang Berserakan (1966), yang berlatar sejarah kelam ketika Pemerintah Inggris mengisytiharkan Undang-undang Darurat untuk menekan gerakan politik dan melawan tentera komunis di hutan. Novel ini berpusat pada tokoh Leman, seorang pemuda yang baru menamatkan latihan polis di Johor Bahru dan kemudian ditugaskan ke Melaka sebagai ketua pasukan polis hutan. Melalui novel ini, Usman Awang menyingkap tragedi kemanusiaan yang tersembunyi di balik kebijakan negara dan konflik ideologi.

Dalam bidang drama, Usman Awang menulis antara lain Tamu di Bukit Kenny, Malam Kemerdekaan, dan Matinya Seorang Pahlawan. Adapun kumpulan puisi yang menjadi tonggak kepenyairannya meliputi Gelombang, Titian Zaman, Puisi-Puisi Pilihan Usman Awang, serta Koleksi Terpilih Sasterawan Negara Usman Awang. Selain itu, ia juga menerbitkan Turunnya Sebuah Bendera dan Yang Nakal-Nakal, yang semakin menegaskan keberanian tematik dan konsistensi sikap estetiknya.

Di luar kepenulisan, Usman Awang aktif dalam dunia penerbitan serta lembaga kebahasaan dan kesusastraan nasional. Di kalangan seniman, ia dikenal sebagai pembangun sistem sastra Melayu modern—seorang penggerak yang memastikan suara rakyat memperoleh ruang di media, teater, dan institusi pendidikan.

Ia juga aktif dalam berbagai lembaga literer dan kebudayaan. Sebagai anggota ASAS 50, Usman Awang bersama generasi penulis 1950-an memperjuangkan sastra sebagai alat perubahan sosial. Ia tercatat sebagai Ketua pertama PENA (1961–1965) dan berperan besar dalam perjuangan mempertahankan kedudukan Bahasa Melayu sebagai bahasa kebudayaan dan kebangsaan. Melalui kerja-kerja kelembagaan, protes budaya, serta pembentukan lembaga penerjemahan—yang kelak menjadi cikal bakal lembaga penerjemahan nasional—ia menegaskan bahwa sastra adalah bagian dari perjuangan identitas.

Melalui seluruh peran itu, Usman Awang menegaskan bahwa sastra bukan monolog seniman, melainkan dialog dengan masyarakat—dialog antara bahasa, identitas, keadilan, dan kemanusiaan.

Atas jasa dan karya besarnya, Usman Awang menerima berbagai penghargaan penting: gelar “Pejuang Sastera” dari Pemerintah Malaysia (29 Mei 1976), S.E.A. Write Award (1982), serta gelar Sasterawan Negara ke-3 pada 1983. Pada tahun yang sama ia menerima gelar doktor kehormatan (Ilmu Persuratan) dari Universiti Malaya, dan pada 1991 dianugerahi gelar kebesaran Dato’ oleh Sultan Perak sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam bidang budaya dan sastra.

Memasuki dekade 1990-an, kesehatan Usman Awang mulai menurun. Penyakit jantung dan komplikasi pernapasan membuatnya kerap keluar-masuk hospital. Namun ia tetap menulis. Rumahnya di Kuala Lumpur menjadi tempat persinggahan penyair muda, mahasiswa sastra, peneliti asing, wartawan, dan sahabat-sahabat sesama budayawan. 

Setelah beberapa kali dirawat, pada 29 November 2001, di Hospital Pantai, Kuala Lumpur, Usman Awang mengembuskan napas terakhir dalam usia 72 tahun. Di pemakamannya, orang-orang membaca lirih petikan Salam Benua dan Pak Utih, seolah mengantar penyair itu pulang dengan kata-katanya sendiri.

Warisan Usman Awang tetap hidup. Puisinya terus dibaca dan diresapi sebagai rujukan sastra Melayu modern—contoh bagaimana sastra berakar pada tradisi namun berani melangkah ke modernitas. Drama-dramanya memengaruhi teater Melayu kontemporer; tema kemanusiaan, kemiskinan, dan keberpihakan kepada rakyat tetap relevan lintas zaman. Bahasa Melayu, melalui karya-karyanya, diteguhkan sebagai bahasa sastra rakyat—bahasa yang menjangkau semua lapisan.

Pada akhirnya, Usman Awang hadir bukan sekadar sebagai nama besar dalam sejarah sastra Melayu, melainkan sebagai ingatan kolektif tentang bagaimana kata dapat menjadi bentuk keberanian. Ia menulis bukan dari menara gading, tetapi dari tanah yang basah oleh keringat dan luka sosial. Puisinya tidak berusaha menghibur kekuasaan, melainkan menemani mereka yang tersisih oleh sejarah. Di tengah perubahan zaman, modernisasi, dan krisis identitas kebahasaan, suara Usman Awang tetap bergema sebagai penanda bahwa sastra yang hidup adalah sastra yang berpihak—kepada manusia, kepada keadilan, dan kepada nurani. Selama kata masih dipercaya sebagai jalan pengakuan martabat, selama bahasa masih dipakai untuk menyebut luka dan harapan, selama itu pula puisi Usman Awang akan terus menemukan pembacanya, lintas generasi, lintas zaman, dan lintas batas kebudayaan.


Catatan: 

Esai ini disarikan dari berbagai sumber untuk Semaan Puisi Episode 106

Kamis, 4 Desember 2025, Al-Zastrouw Librari x adakopi original.

Bionarasi

Angin Kamajaya adalah pengajar sastra di Fakultas Sastra Universitas Pamulang (UNPAM). Selain dikenal sebagai dosen dan penulis, ia juga merupakan tokoh teater yang sanad keilmuannya tersambung langsung kepada WS. Rendra. Saat ini, ia mengasuh sekaligus mengelola komunitas Semaan Puisi, adakopi original, sebuah ruang perjumpaan yang merawat pembacaan puisi, dialog kebudayaan, dan keberlanjutan tradisi lisan-sastra.

 

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak