Puisi-puisi Ngatawi Al-Zastrouw


Oleh Ngatawi Al-Zastrouw


BERITA DUKA

Innalillahi wainna ilaihi rojiun

Telah meninggal dunia dengan segenap luka 

Kejujuran bin Hati Nurani

Meninggal karena diperkosa para mafia


Beberapa hari yang lalu

Dia masih kirim kabar

Sedang disandra kelelawar hitam

Tubuhnya diikat kakinya dijerat

Seluruh pakaian dan wajahnya dilucuri

Bajunya dikibarkan di mimbar khotbah

Wajahnya dipajang di etalase kekuasaan


Saat itu aku mengira

Dia masih sehat seperti sedia kala

Semua orang juga mengira dia baik baik saja

Itulah yang membiat asa tetap menyala


Aku membayangkan wajahnya yang perkasa

Dibalk bajunya yang dikibarkan.

Aku juga melihat harapan rakyat terus menyala

Saat melihat wajahnya di etalase penguasa


Kabar kematiannya hari ini

Memadamkan harapan dan mimpi

Menjadi isyarat datangnya bencana

Karena manusia akan saling memangsa

Dengan intrik dan tipu daya.

Desember 2025



MENIPU IBLIS

Ibu...

Belikan aku kejujuran

Di pasar loak atau di pasar gelap

Karena di mall dan Gedung-gedung mewah

Tak lagi menjajakan kejujuran

Di rumah ibadah dan kantor pemerintah

Kejujuran menjadi barang langka

Jika di pasar loak dan pasar gelap

Sudah tidak lagi menjual kejujuran

Maka izinkan aku menipu iblis budiman

 


BOMA NARAKASURA

Dari sudut goa kegelapan

Sang Boma Marakasura merangkai mesteri

Menumpahkan bola api berbisa

Sekali sembur

Luluh lantak benteng nurani


Tajam mata sang Narakasura

Menatap penuh siaga

Hatinya mendidih tungku neraka

Melihat manusia berbagi kasih pada sesama


Waspadalah para bestari

Jangan terlena pada indah janji

Karena sang Boma Narakasura

Terus mengintai di balik gelap 

Menanti saat yang tepat

Merobek hati yg telah terikat



I S L A H......

Seperti telaga jernih yang sejuk dan indah

Merekatkan tanah yang retak

Menyejukkan bumi yang gersang

Air jernih peradaban

Menggalir dalam nadi kehidupan

Menumbuhkan benih harapan

Semoga tak terkotori sampah birahi

Yang merobek keteduhan 

Membakar kesejukan



S I S Y P H U S

Ibu…

Ajari aku tentang kesabaran

Karena orang-orang bijak 

Telah ikut sibuk mengejar dunia

Mereka berpacu dengan fatamorgana

Hingga tak punya waktu mengajari kesabaran


Belajarlah pada Sisyphus, Nak

Jawab sang ibu  dengan suara lembut nyaris tak terdengat

Ahai, aku ingin belajar sabar, Ibu, bukan beajar gila

Jawaban sang anak sedikit jumawa

Aku tak mau melakukan kerjaan sia-sia seperti dia

Hanya mendorong batu sepanjang usia

Menghabiskan waktu dan tenaga tanpa guna


Anakku

Betapa banyak orang menjahit bendera

Lalu dirobek tangan-tangan jahat para pengkhianat

Tapi mereka menjahit kembali

Betapa banyak orang merajut hati anak-anak negeri

Lalu, dihancurkan para pencuri

Dan mereka merajut kembali 

Setiap kali tangan-tangan jahat pengianat merobek bendera 

Dan menghancurkan rajutan hati

Mereka menjahit dan merajut kembali

Setapak demi setapak

Tanpa suara, tanpa kamera

Begitulah kerjaan mereka selama hidup

Seperti Sisyphus mendorong batu


Anakku

Di mata orang-orang sibuk mengejar waktu

Di hadapan manusia penyembah dunia

Mereka adalah orang-orang gila yang tak berguna

Tapi ketahuilah, Nak

Tanpa mereka dunia hancur dilindas jaman

Tanpa mereka negeri ini musnah ditelan serakah 


Sisyphus adalah mata air kesabaran

Yang berkerja dalam sunyi

Kesabaran tak perlu puja puji

Dia tertanam dalam hati 



BALADA KERA

Di negeri Alengka Diraja

Sang Anoman ksatria kera gagah perkasa

Bertempur membela negara

Menjaga amanah dan martabat bangsa

 

Di negeri Insula

Sekelompok bangsa kera

Sibuk berkelahi dengan sesama

Salng cakar saling sikut

Demi mendapat sebutir pisang

Untuk menuhi perutnya


Seekor kera bertubuh tambun

Memukul lawannya dengan bongkahan emas

sambil membuang serpihan intan dan butiran Mutiara

Demi merebut sebutir pisang


Sekelompok pemburu 

Mengintai penuh waspada

Dari sela-sela pohon raksasa

Memungut bongkahan emas dan butiran Mutiara

Yang dibuang kawanan kera


Para pemburu itu sangat paham

Bangsa kera tidak pernah mengerti mahalnya harga emas

Dan mulianya nilai permata

Bagi bangsa kera

Sebutir pisang lebih berharga dari sebongkah emas dan permata


Saat gerombolan kera lapar

Sang pemburu menebar buah pisang

Dalam senyap

Sang pemburu mencuri emas dan berlian

Saat para kera ssaling cakar berebut pisang


Balada kera di negeri Insula

Ironi peradaban dunia




Ngawati Al-Zastrouw adalah seniman dan budayawan yang bersama kelompok Ki Ageng Ganjur mengelaborasikan musik-musik etnik dan musik kontemporer serta mementaskannya di berbagai negara. Atas karya dan dedikasinya di bidang seni dan kebudayaan, ia telah menerima sejumlah penghargaan, di antaranya Piala Citra FFI pada tahun 2010 serta Penghargaan Santri Inspirasi di Bidang Seni dan Budaya dari Pustaka Kompas pada tahun 2016. Ia juga terlibat dalam dunia perfilman sebagai produser dan pemain film pendek “Kelas 5000-an”, serta saat ini menjabat sebagai Kepala Makara Art Center. Buku-buku terbarunya antara lain Oase Hikmah Para Masyayikh (2024) dan Menggali Api Pancasila (2024).




Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak