PASEMON DALAM KEHENINGAN: JEJAK KREATIF GOENAWAN MOHAMAD

 


Oleh Angin Kamajaya

Bernama lengkap Goenawan Soesatyo Mohamad, lahir di Batang, Hindia Belanda, pada 29 Juli 1941. Ia adalah seorang penyair, esais, penulis naskah, dan editor Indonesia terkemuka, yang juga dikenal luas dengan inisial “GM”.

GM merupakan salah satu tokoh penting dalam dunia sastra dan jurnalisme Indonesia. Ia adalah pendiri sekaligus pemimpin redaksi majalah berita Tempo, dan dikenal sebagai sosok yang konsisten serta vokal dalam mengkritik kekuasaan. Dalam pandangan A. Teeuw, GM menempati posisi khas dalam sastra Indonesia modern: seorang penyair yang tidak hanya mengolah bahasa, tetapi juga menghadirkan kesadaran intelektual yang terus berdialog dengan zaman.

Meskipun karier jurnalistiknya panjang dan menentukan, sejak usia muda GM lebih dikenal sebagai penyair. Tema-tema puisinya bersifat reflektif, berpikir dalam, dan kaya imaji. Proses kreatifnya kerap digambarkan sebagai sesuatu yang spontan sekaligus meditatif. Gaya seninya yang sarat pasemon menjadikan karya-karyanya berlapis makna dan terbuka terhadap penafsiran, sehingga tetap hidup melampaui konteks sejarahnya.

GM terlahir sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara di Batang, Jawa Tengah. Ayahnya adalah tokoh pergerakan setempat yang terbuka secara intelektual, sehingga sejak kecil GM tumbuh dalam lingkungan yang kaya bacaan. Sejak kanak-kanak, ia dikenal sebagai kutu buku yang gemar membaca dan menyerap pelbagai pengaruh pemikiran.

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, GM sudah terbiasa mendengarkan siaran puisi di Radio Republik Indonesia (RRI) setiap malam, dan mengaku sangat menyenangi acara puisi tersebut. Kakaknya yang berprofesi sebagai dokter berlangganan majalah sastra Kisah besutan Hans Bague Jassin, yang kemudian kerap dibaca GM ketika remaja. Pengalaman masa kecil inilah yang menumbuhkan kecintaannya pada puisi dan sastra, sehingga pada usia muda ia telah mulai menulis dan menerjemahkan puisi.

Setelah lulus SMA di Pekalongan (1959), GM masuk Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada tahun 1960, meskipun kemudian tidak menyelesaikan studi tersebut. Ia lalu melanjutkan pendidikan ke luar negeri: pada tahun 1965–1966 belajar filsafat dan ilmu pengetahuan di College of Europe, Bruges, Belgia; selanjutnya pada tahun 1966 mengikuti perkuliahan di Universitas Oslo, Norwegia. Pada 1989–1990, GM menjadi Nieman Fellow di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Sepanjang pendidikannya, GM tidak mengejar gelar akademik formal karena minat utamanya tertuju pada persoalan masyarakat, kebudayaan, dan sastra. Selama masa pendidikan inilah pemikirannya berkembang luas—mulai dari psikologi dan filsafat Barat hingga wacana kebudayaan Indonesia. Ignas Kleden melihat GM sebagai intelektual publik yang menjembatani sastra dan pemikiran sosial: puisi dan esainya bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan cara memahami relasi kuasa, sejarah, dan subjektivitas manusia.

Sejak remaja, GM telah aktif menulis puisi. Ia mulai menulis pada usia 17 tahun, dan dua tahun kemudian berhasil menerjemahkan sebuah puisi karya Emily Dickinson yang dimuat di harian Abadi pada awal 1960-an. Tulisan-tulisan awalnya dikumpulkan dalam rubrik kebudayaan majalah Manifestasi di Harian Abadi, bersama penyair lain seperti Taufiq Ismail dan Djamil Suherman.

Pada tahun 1964, GM terlibat dalam peristiwa penting sejarah kebudayaan Indonesia: Manifes Kebudayaan. Ia turut menandatangani pernyataan tersebut, yang kemudian berdampak pada pelarangan dirinya menulis di sejumlah media umum. Namun justru dari pengalaman inilah reputasinya sebagai penyair muda yang berani dan berintegritas terbentuk.

Kumpulan sajak GM mulai diterbitkan pada awal 1970-an. Parikesit (1971) menjadi buku puisi pertamanya, disusul Interlude (1973), dan kemudian Asmaradana (1992). Penerbitan buku-buku ini meneguhkan GM sebagai penyair penting Indonesia. Kreativitasnya terus berkembang: Misalkan Kita di Sarajevo (1998) muncul sebagai respons puitis atas konflik Bosnia; Sajak-sajak Lengkap 1961–2001 (2001) menghimpun karya empat dekade; dan Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai (2007) memuat 99 percikan refleksi puitis yang menandai kedalaman spiritual sekaligus intelektualnya.

Dalam proses kreatifnya, GM menekankan pentingnya ketenangan batin. Ia meyakini bahwa puisi tidak lahir dari amarah yang meledak-ledak, melainkan dari kesunyian yang terjaga. Dalam sebuah wawancara pada pameran seni tahun 2021, ia mengatakan, “Diam itu penting. Kita tidak bisa membuat puisi dengan jingkrak-jingkrakan.” Pernyataan ini menegaskan bahwa puisinya bertumbuh dari keheningan dan refleksi, suatu sikap estetik yang oleh A. Teeuw dibaca sebagai ciri kedewasaan modern dalam sastra.

Puisi-puisi GM dikenal melalui tema-tema yang tidak lazim dan kerap terasa “asing”: mitologi, tokoh sejarah, hingga detail keseharian yang diberi konteks luas. Judul-judul seperti Parikesit, Asmaradana, atau rujukan pada Don Quixote, menjadi semacam pintu masuk simbolik yang menantang pembaca. Di sinilah estetika pasemon bekerja: puisi sebagai teka-teki terbuka, makna yang tidak pernah final, dan dialog tanpa penutup.

Selain puisi, GM menulis esai-esai berpengaruh, terutama kolom “Catatan Pinggir” di majalah Tempo yang dibukukan hingga 14 jilid. Namun dalam konteks ini, fokus diarahkan pada GM sebagai penyair. Kumpulan puisinya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi rujukan studi sastra Indonesia. Empat puisinya bahkan digubah menjadi komposisi musik Tembang Puitik oleh Ananda Sukarlan, menandai lintas-medium apresiasi atas karyanya.

Dari sisi karya cetak, GM menghasilkan antologi sajak, kumpulan esai, dan buku pemikiran seni, antara lain Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), hingga Eco dan Iman (2021) serta Albert Camus: Tubuh dan Sejarah (2021). Keseluruhan karya ini menegaskan posisinya sebagai penyair-pemikir—sebuah sebutan yang, dalam pandangan Ignas Kleden, menunjuk pada figur yang tidak memisahkan kerja estetik dari tanggung jawab intelektual. Bagi Kleden, tulisan-tulisan GM memperlihatkan bagaimana sastra berfungsi sebagai ruang refleksi kritis: tempat bahasa tidak hanya merayakan keindahan, tetapi juga menguji relasi antara subjek, kekuasaan, sejarah, dan makna hidup dalam masyarakat modern.

Atas konsistensi dan keluasan kontribusinya—baik sebagai penyair, esais, maupun intelektual publik—GM menerima berbagai penghargaan bergengsi, antara lain CPJ International Press Freedom Award (1998), International Editor of the Year Award (1999), David Prize (2006), HB IX Award (UGM), Kusala Sastra Khatulistiwa (2001), Japan Foundation Award (2022), serta Lifetime Achievement Award Ubud Writers & Readers Festival (2024). Deretan penghargaan ini tidak hanya menandai pengakuan institusional atas kiprahnya, tetapi juga menegaskan daya tahan estetik dan intelektual karya-karyanya dalam lintasan waktu. Dari sekian banyak puisinya, salah satu yang paling sering dibicarakan dan menarik perhatian pembaca adalah puisi berjudul “Asmaradana”. Puisi ini dapat dibaca sebagai contoh penting bagaimana keheningan, pasemon, dan perenungan eksistensial bekerja dalam dunia puitik GM. Berikut saya kutip puisinya:

ASMARADANA

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena

angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika

langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di

antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,

perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi

pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan

mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.

Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,

kulupakan wajahmu.

(1971, sumber: Asmaradana, 1992)

Puisi Asmaradana adalah sebuah elegi sunyi yang reflektif. Ia menyampaikan duka dan perpisahan bukan melalui ratapan, melainkan lewat lanskap hening tempat bahasa, kenangan, dan cinta larut dalam kabut waktu. Dalam pembacaan Ignas Kleden, puisi semacam ini menunjukkan bagaimana subjek modern berhadapan dengan kehilangan tanpa ilusi kepastian.

GM, dengan demikian, adalah figur sentral dalam sastra Indonesia modern. Karya-karyanya yang puitis dan konseptual tetap relevan lintas zaman. Dengan dedikasi, keberanian berpikir, dan kepekaan estetis yang mendalam, Goenawan Soesatyo Mohamad meninggalkan warisan penting bagi khazanah sastra Indonesia abad ini.

Catatan: Esai ini disarikan dari berbagai sumber untuk Semaan Puisi Episode 89,

Kamis, 7 Agustus 2025, di Adakopi Original


Bionarasi

Angin Kamajaya adalah pengajar sastra di Fakultas Sastra Universitas Pamulang (UNPAM). Selain dikenal sebagai dosen dan penulis, ia juga merupakan tokoh teater yang sanad keilmuannya tersambung langsung kepada WS. Rendra. Saat ini, ia mengasuh sekaligus mengelola komunitas Semaan Puisi, adakopi original, sebuah ruang perjumpaan yang merawat pembacaan puisi, dialog kebudayaan, dan keberlanjutan tradisi lisan-sastra.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak