Kumpulan Puisi Nita Ch Lusaid

 Oleh Nita Ch Lusaid


Lima Puluh Tujuh


Hari ini

aku berdiri di hadapan waktu

bukan sebagai penakluknya,

melainkan sebagai sahabat

yang telah belajar berjalan seiring dengannya.


Lima puluh tujuh tahun,

bukan sekadar angka,

melainkan jejak langkah

yang ditulis oleh jatuh dan bangkit,

oleh air mata yang diam-diam menguatkan,

oleh doa yang tak selalu terucap

namun setia bernaung di dada.


Aku bersyukur.

Untuk napas yang masih diberi makna,

untuk pagi yang selalu membuka pintu harapan,

dan untuk Allah SWT

yang tak pernah lelah menggenggamku

bahkan saat aku hampir melepaskan diri.


Terima kasih untuk anak-anakku,

mata air yang membuatku ingin terus hidup dengan berani,

yang mengajarkanku arti pulang,

bahwa cinta sejati tak meminta,

ia hanya tumbuh dan menguatkan.


Terima kasih untuk keluargaku,

tempat aku boleh rapuh tanpa kehilangan martabat,

tempat namaku disebut

dalam doa-doa yang tak bersuara.


Terima kasih untuk sahabat dan teman,

yang hadir bukan hanya saat aku tersenyum,

tetapi juga ketika aku belajar berdamai

dengan luka-luka yang tak kasatmata.


Dan hari ini,

aku ingin memberi hormat pada diriku sendiri,

perempuan yang memilih bertahan

ketika menyerah terasa begitu dekat,

yang terus melangkah

meski lelah sering datang lebih dulu.


Aku tidak sempurna.

Namun aku setia pada hidup,

dan itu cukup untuk membuatku bangga.


Lima puluh tujuh tahun,

aku masih di sini,

dengan hati yang lebih lapang,

jiwa yang lebih berani,

dan cinta yang tak lagi takut memberi.


Jika esok masih diberi hari,

biarlah aku menjalaninya dengan syukur,

menjadi cahaya kecil

yang menghangatkan sekitar,

dan pulang pada Allah,

dengan cerita yang jujur:

bahwa aku telah hidup

dengan segenap cinta dan keberanian.


Mahakam, 19 Desember 2025




Di Hari Kelahiranmu yang Tetap Hidup


Kau pergi bukan dari ranjang sakit,

bukan dari ruang yang kami siapkan untuk perpisahan.

Kau pergi dari ruang makan,

tempat doa sering tidak diucapkan,

karena bahagia terasa cukup.


Kau tersungkur

di sela canda yang belum genap,

napasmu patah

menjadi suara asing,

lalu dunia kami berhenti

tanpa sempat mengerti apa-apa.


Lima puluh tahun usiamu.

Terlalu muda untuk pulang,

terlalu utuh untuk dilepaskan.

Tiga anak lelaki kita

masih menyimpan masa kecil

di saku-saku harapannya,

sementara aku,

dipanggil takdir

untuk berdiri sendirian

di tengah reruntuhan rencana.


Kesedihan tidak diberi hak tinggal lama.

Ia hanya boleh singgah sebentar,

lalu harus pergi.

Anak-anak membutuhkan ibu

yang hadir sepenuhnya,

bukan duka yang tergeletak.

Aku belajar tegar

bukan karena kuat,

melainkan karena cinta

tak pernah memberi pilihan untuk menyerah.


Waktu tidak menyembuhkan,

ia hanya mengajari cara berjalan

dengan luka yang lebih beradab.

Hampir sembilan tahun berlalu,

dan anak-anak kita tumbuh

tanpa menunggu izin siapa pun.

Mereka belajar jatuh,

belajar bangkit,

belajar menjadi lelaki

dengan caranya sendiri.


Dari alamMu,

kau pasti melihat:

bagaimana darahmu

menjelma tekad,

bagaimana namamu

menjadi sunyi yang menjaga.

Dan aku tahu,

kau bangga,

dengan cara lelaki yang tak pandai bersuara,

namun setia mencintai dalam diam.


Kisah kita tidak berakhir di pemakaman.

Ia tinggal

di keheningan rumah,

di cara anak-anak memaknai tanggung jawab,

di kehangatan yang tidak pernah ribut

namun tak pernah pergi.

Engkau adalah lelaki

yang tidak menuntut dikenang,

tetapi tak pernah bisa dilupakan.


Sulit berpaling darimu,

meski kini udara kita berbeda.

Aku hidup,

dan kau menetap

di ruang yang tak bisa disentuh

namun selalu hadir.


Aku tidak tahu

apa rupa hari esok.

Tetapi satu doa

tak pernah berubah nadanya:

in syaa Allah,

aku, engkau,

dan anak-anak kita

akan dipertemukan kembali

oleh kasihNya

di Surga Firdaus,

tempat rindu

tidak lagi harus bersabar,

dan cinta

tidak lagi belajar kehilangan.


Catatan: 

in memoriam Desrizal Lusaid bin Saidina Amin, lahir 24 Desember 1966* Al Fatihah 




IBU

Titik Awal Kehidupan dan Nurani Kemanusiaan


Hari Ibu adalah undangan sunyi,

untuk kembali pada hal yang paling mendasar:

rasa hormat kepada kehidupan.

Dan kehidupan, di manapun ia bermula,

selalu menemukan wajah pertamanya

pada seorang Ibu.


Dari rahim Ibulah manusia hadir ke dunia,

bukan hanya sebagai tubuh,

tetapi sebagai harapan.

Di dalam dirinya,

kehidupan dijaga dengan kesabaran,

ditumbuhkan dengan kasih,

dan dilepaskan dengan doa.

Di sanalah nilai kemanusiaan

pertama kali diperkenalkan.


Di ruang domestik,

Ibu bekerja tanpa panggung.

Ia merawat, mendidik, dan menata kehidupan

dengan ketekunan yang sering luput dari sorotan.

Namun justru dari kerja yang senyap itulah

karakter manusia dibentuk,

nilai ditanamkan,

dan masa depan disiapkan.


Banyak Ibu kemudian memikul peran ganda,

melangkah ke ruang publik dan profesional.

Mereka berpikir, bekerja, memimpin,

sambil tetap menjaga pusat kehidupan.

Peran ini bukan sekadar pilihan individual,

melainkan kontribusi besar,

bagi masyarakat dan peradaban.

Karena itu, penghormatan kepada Ibu

harus hadir sebagai kesadaran kolektif,

bukan sekadar ungkapan personal.


Hari ini, kita diajak menempatkan Ibu

pada urutan tertinggi dalam hidup kita,

sebagai sumber nilai,

penjaga keseimbangan,

dan pengingat makna.

Menghormati Ibu berarti

menghormati asal-usul kita,

dan menjaga keberlanjutan kehidupan.


Sebab selama Ibu dihargai,

kasih tidak kehilangan arah.

Dan selama kasih dijaga,

kemanusiaan akan selalu menemukan jalannya.


Selamat Hari Ibu,

untuk Almarhumah Ibuku,

dan untuk semua Ibu di dunia,

penjaga kehidupan,

tanpa syarat dan tanpa henti. 


22 Desember 2025



Bionarasi

Nita Lusaid adalah nama lain dari Nita Chobah,  seorang ibu dari tiga anak yang menapaki kehidupan dengan kepekaan rasa dan keberanian makna. Sejak kecil, ia telah akrab dengan dunia kata, menulis puisi sebagai ruang sunyi untuk merawat perasaan, ingatan, dan harapan. Di luar aktivitas domestik, Nita aktif sebagai fasilitator, narasumber, dan penggerak berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan kebudayaan. Beragam peran yang ia jalani, sebagai profesional di bidang komunikasi, penggiat komunitas, leader CSO dan wirausaha kreatif, menjadi sumber pengalaman yang memperkaya karyanya.Bagi Teh Nita begitu biasa disebut, menulis bukan sekadar keterampilan, melainkan jalan pulang: cara memahami hidup, menguatkan diri, dan berbagi cahaya dengan sesama.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak