Banyak orang tua yang mengeluh anaknya jarang buka buku, bermalas-malasan di rumah, apa solusinya?
Apakah guru harus memberikan tugas rumah setiap hari?
Apakah siswa yang bermalas-malasan di rumah dan enggan belajar di luar KBM menjadi tugas guru?
Guru bisa datang dari mana saja dan kapan saja, tidak sebatar profesi atau di lingkungan sekolah. Guru bisa berupa pengalaman seperti kata pepatah, atau mungkin rutinitas sehari-hari yang terjadwal. Tapi apakah itu semua tanggung jawab guru profesional? Atau mungkin sebaliknya?
Dewasa ini, banyak orang tua yang mempermasalahkan kinerja instansi pendidikan (guru) yang dianggapnya tidak sesuai dengan caranya mendidik anak. Walhasil guru menjadi satu-satunya profesi yang disalahkan apabila seorang anak melakukan prilaku menyimpang di kehidupan sosial.
Memang betul tugas seorang guru adalah mendidik. Tapi tidak betul jika semua prilaku yang menyimpang disebabkan oleh gurunya yang kurang mendidik. Karena tugas guru membutuhkan dukungan yang kuat dari berbagai pihak, tidak hanya orang tua, tetapi juga lingkungan masyarakat. Makanya yang dibutuhkan oleh kita adalah bagaimana membangun konsep bermasyarakat yang mendidik generasi muda kita.
Sebuah tugas rumah atau PR, tidak dapat menentukan minat seorang siswa untuk giat belajar. Apalagi jika tugas tersebut hanya berisi pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh seorang anak. Sejatinya, hal yang akan membuat siswa giat belajar dalam situasi apapun dan dalam lingkungan apapun adalah rasa ingin tahunya. Bukan karena kewajiban mengerjakan tugas. Dan cara mestimulus hal tersebut adalah orang yang terkedat dengan si anak, dalam hal ini bisa jadi orang tuanya sendiri atau yang lain.
Contohnya sepert, jika seorang anak suka mendengar musik atau memutar lagu-lagu favoritnya di rumah, maka cobalah ajak si anak untuk berakaoke atau memainkan alat musik. Karena bisa jadi si anak memiliki bakat dalam bidang seni musik atau vokal. Atau contoh lain, seperti yang banyak remaja sekarang lakukan dengan media sosial. Coba ajak anak untuk membuat konten vlog untuk melatih kemampuan berkomunikasi dan linguistik, atau membuat foto atau vidio sinematografi untuk melatih emosi dan menerapan pengetahuan mereka. Karena sangat mungkin keahlian seperti ini sangat diminati oleh anak muda di zaman sekrang. Yang terpenting adalah orang terdekat memiliki pandangan bahwa cerdas, pintar, atau jenius tidak selalu yang pandai ilmu matematika. Sehingga mereka tidak perlu lagi mendapatkan PR untuk selalu giat belajar.
Terkadang memamg tuntutan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa oleh seorang guru dapat memberikan pengaruh untuk perkembangan anak. Akan tetapi tugas tersebut bukan berupa PR berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya dapat dibuka melalui buku atau internet. Melaikan sebuah pemantik sederhana yang dapat dicari oleh seorang siswa melalui pengalamannya sendiri.
Contohnya, jika seorang guru mendapati salah satu siswa di kelasnya yang gemar menggambar padahal saat itu sedang mengikuti pembelajatan sains tentang gerhana matahari. Maka yang dilakukan guru bukanlah memberikan hukuman karena tidak mengikuti pembelajaran. Melainkan diberikan stimulus yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Misalkan minta anak tersebut menggambar seperti apa proses gerhana matahari berlangsung jika harus divisualkan dalam bantuk gambar. Kemudian sebagai tugas rumah, Ia diminta menggambar fenomena alam yang lain untuk dipresentasikan. Dengan demikian siswa menjadi giat menggambar sekaligus belajar tentang sains, tanpa perlu menjawab soal pertanyaan yang tidak ia minati.
Atau contoh lain, jika kita mendapati seorang anak membaca komik saat mata pelajaran agama. Apa yang harus kita lakukan jika kita bertindak sebagai guru? Lagi-lagi tidak perlu dihukum dengan fisik atau kata-kata yang pedas. Tanyakan apa komik yang ia baca. Kemudian apa relevansinya dengan dengan materi agama yang sedang berjalanan. Apakah ada kesesuaian atau tidak. Jika tidak ada reverensikan si anak untuk membaca komik lain yang memiliki keterkaitan materi. Dengan demikian siswa dapat belajar agama dengan membaca komik tanpa diberikan tugas rumah.
Akan tetapi dua contoh di atas terbilang cukup rumit, dan membutuhkan seorang guru yang betul-betul memperhatikan muridnya satu demi satu. Karena siap siswa pastilah memiliki minat dan bakat yang berbeda. Selain itu guru pfofesional juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk memahami anak didiknya. Sementara siswa mereka lebih dari satu orang. Sehingga dalam hal ini guru membutuhkan dukungan dari orang tua. Melalui berkomunikasi dengan orang terdekat siswa guru dapat melihat kebiasaan yang dilakukan oleh siswa di rumah. Syaratnya, orang tua tidak boleh menutup-nutupi segala sesuatu yang benar-benar dikerjakan oleh anaknya. Jangan sampai gara-gara si anak gemar menonton anime di rumah, lantas orang tua menganggap si anak suka bermalas-malasan dan hanya tiduran melihat ponsel. Karen bisa jadi yang dilakukannya itu adalah sebuah potensi.
Siapa tahu, dimulai dari kegemarannya menonton serial anime si anak menjadi lebih tertarik dalam dunia visual atau sastra. Tinggal berikan saja pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tontonannya. Sekali apa yang ia tonton tidak berisi konten pornografi. Dengan memberikan pertanyaan yang me-reflesh kembali ingatannya, si anak menjadi terlatih untuk mengidentifikasi data, dan menghubungkan data tersebut dengan konflik-konflik yang ada di dalam certia. Sehingga si anak dapat berpikir analisis sekligus lebih lanjut kritis, karena dapat menemukan teori baru dari permasalahan yang ada.
Ingatlah bahwa yang menjadi kunci seorang anak pintar atau jenius bukan karena ia pandai ilmu sains atau matematika. Tetapi karena kemampuan mengidentifikasi, menganalisa, dan sikap kritisnya. Jika seorang anak telah terbiasa belajar seperti itu, maka memahami materi apapun jauh lebih mudah.
Lebih lanjut guru tidak perlu lagi memberikan tugas rumah berupa soal pertanyaan. Karena itu tidak akan mengasah kemampuan identifikasi, analisa, dan kritisnya. Melainan kemampuan menemukan jawaban dalam buku dan internet saja.
Seperti yang sudah di jelaskan pada paragraf di atas, untuk mengasah kemampuan mengidentifikasi, menganalisa, dan sifat kritis anak tidak harus berlajar menghitung seperti yang diajarkan dalam ilmu matematika. Akan tetetapi semua mata pelajaranpun bisa. Sepanjang orang tua memahami minat dan bakat anaknya, dan bukan jenis orang tua yang mengkatagorikan anak pandai adalah anak yang bisa mengerjakan soal hitungan maka setiap anak pasti akan menjadi bintang.
