Semua Tidak Harus Berbeda, Juga Tidak Harus Sama

Oleh M. Yus Yunus

Saat masih sekolah dahulu kita pernah diajarkan tentang sinonim dan antonim. Dengan duduk tenang guru kita menjelaskan seperti apa sinonim dan antonim itu. Kemudian kita mulai diajarkan untuk menghafal kata apa saja yang keluar di papan tulis. Tanpa berpikir panjang dan tahu sebab, kita menyimpan pemahaman itu di kepala kita dan kemudian menggunakannya. Semenjak saat itulah kita saling tahu bahwa setiap kata memiliki maksud yang saling berlawanan. Dan semenjak saat itu pula kita jadi tahu bahwa ada kata lain untuk menyampaikan apa yang kita maksud, meskipun bukan kata pertama yang kita pikirkan.

Lalu apakah sampai saat ini, kita semua sudah benar-benar memahi sinonim dan atonim? Kenapa keduanya harus ada dalam berbehasa? Dan apa pengaruh mereka terhadap bahasa, juga terhadap diri kita sebagai penutur? Inilah hal yang masih perlu kita pelajari kembali. Bahwa bahasa itu menjadi alat pengantar buah pemikiran, sehingga setiap kata yang kita gunakan sangat berpengaruh dalam mempengaruhi orang lain.

Sinonim dan antonim muncul secara alami melalui perkembangan bahasa dan ilmu linguistik. Namun tidak ada kepastian dari siapa sinonim dan antonim pertama kali diciptakan. Itu karena sinonim dan antonim muncul sebagai kebutuhan budaya dalam berkomunikasi, terutama dianggap memenuhi kebutuhan akan kajian ilmu makna. Akan tetapi dalam pemaknaan bahasa, sebuah kata tidak dapat dituduh memiliki makna jika belum menjadi satuan gramatikal dalam bantuk frasa, klausa atau kalimat. Jika sebuah kata berdiri sendiri tanpa ada tambahan kata lain di awal maupun diakhir, maka kata tersebut hanya memiliki arti bukan makna. Sementara itu sinomin dan antonim bermain diwilayah tersebut, bukan wilayah makna.

Kedua istilah bahasa ini diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, dari mulai kelas satu sekolah dasar sampai mungkin juga perguruan tinggi. Disebebkan karena budaya berbahasa bangsa kita kerap memilah dan memilih dalam menggunakan kata, untuk mencari kelayakan dan memenuhi standar kesopanan dan kesantunan. Sebagaimana suku, dan budaya di negeri ini yang mengedepankan kedua aspek tersebut, sinonim dan antonim pun tumbuh subur di masyarakat kita.

Sinonim dan antonim bukanlah sebuah bidang atau ilmu bahasa, karena ia muncul akibat adanya gejala sosial. Sehingga ia lebih tepat disebut sebagai penyempitan pemahaman sosial. Kebutuhan untuk berbahasa sopan dan santun, juga memberikan sumbangan pengaruh kepada munculnya sinonim dan antonim. Sehingga sinonim dan antonim dapat diterima oleh banyak orang, sebagai kebutuhan berbahasa. Namun tidak oleh beberapa penyair dan penulis.

Dalam konteks bermasyarakat sinonim dan antonim dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemikiran manusia. Seperti oposisi biner yang membentuk konsep persamaan dan perlawanan, sehingga mempengaruhi pemikiran terhadap cara pendang kita melihat dunia. Dengan anggapan bahawa setiap kata memiliki persamaan makna dan lawan katanya, kita menganggap tidak akan menjadi masalah jika kita mengganti kata tersebut dengan kata lain asalkan memenuhu standar kesopanan dan kesantunan. Yang padahal setiap kata terdiri dari huruf yang berbeda dan setiap huruf memberikan sebuah kata arti yang tidak sama pula.

Sebagai contoh, kata "bunting" dianggap memiliki persamaan kata dengan kata "hamil" namun hal ini justru memberikan polemik dalam berbahasa. Karena kata "bunting" dianggap tidak tepat karena ditujujan untuk binatang bukan manusia. Sementara kata "hamil" dianggap lebih sesuai, namun kita kurang penjelasan lebih rinci. Kenapa kata "hamil" lebih layak untuk manusia ketimbang kata "bunting".

Begitu pula sebaliknya, saat kita mencari lawan kata dari kata "hamil" maka yang muncul adalah kata "mandul". Padahal "hamil" dan "mandul" bukanlah sebuah perbedaan yang jelas. Karena sebelum kata "hamil" digunakan, bisa jadi pelaku tertuduh "mandul". Yang bisa saja kata "mandul" diganti menjadi frasa "tidak hamil" atau "belum masuk masa kehamilan". Sehingga tuduhan untuk menggunakan kata "mandul" hanya dapat diketahui setelah melalui pemeriksaan kesehatan. Bukan pemeriksaan kata. Di luar dari itu, meskipun tidak ada penjelasan kenapa kata "hamil" lebih layak dari pada kata "bunting" kita bisa melihat bahwa keduanya memiliki arti yang tidak sama atau tidak setara.

Contoh lain misalnya, kata "wanita" dianggap memiliki persamaan dengan kata "perempuan" atau "putri". Padahal ketiganya jelas memiliki arti yang berbeda. Kata "wanita" menunjukan sebuah sifat, sementara kata "perempuan" menunjukan jenis kelamin dan kata "putri" menunjukan seorang gadis. Memamg tidak ada dasar tertulis yang menjelaskan ketiga kata tersebut. Namun sebenarnya kita kerap menggunakannya, dan memahmi penggunaan tiga kata tersebut dalam konteks bersosial.

Sebagai contoh tambahan, untuk menyebutkan perilaku laki-laki yang memiliki gejala penyimpangan seperti seorang "perempuan" kita menyebut mereka dengan akronim "waria" atau "wanita pria". Sementara dalam akronim "waria" terdapat kata "wanita" dan lawan katanya "pria". Kedua kata ini sama-sama miliki arti sifat, dimana kata "wanita" memiliki sifat seseorang yang keperempuanan  dan kata "pria" memiliki sifat yang kelelakian "laki-laki". Sedangkan kata "perempuan" memiliki arti jenis kelamin yang berbeda dengan laki-laki. Sehingga kata "wanita" dan "perempuan" jelas tidak memiliki persamaan. Karena tidak tentu "perempuan" memiliki sifat "wanita". Seperti pada ungkapan "perempuan feminis" atau perempuan yang setara dengan laki-laki dalam hal pemikiran. "Wanita perkasa" yang memiliki maksud perempuan sekuat laki-laki karena bisa mengangkat beban.

Sinonim dan antonim memamg mempengaruhi cara pandang kita dalam melihat dunia. Karana dengan konsep seperti itu, kita menjadi kurang bergairah dalam menjabarkan sesuatu hal. Kemampuan kita dalam mendeskripsikan objek menjadi sempit, karena terlalu berpusat dengan persamaan kata dan lawan katanya. Sehingga keduanya menjadi struktur yang sebenarnya lemah untuk memenuhi kebutuhan akan perilaku sopan dan santun dalam berbahasa.

Sebenarnya kesopanan dan kesantunan dalam berbahasa dapat kita latih melalui kalimat deskriptif dan naratif. Segala sesuatu dapat kita pahami karena rinci dan jelas. Bukan karena singkat dan padat. Terlebih yang singkat dan padat itu terkadang menimbulkan penafsiran ganda. Kecuali menggunakan kata yang bersifat konkrit dan tidak ambigu.
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak