Cerpen: Platonis

Oleh M. Yus Yunus

Hujan mengguyur tenda putih itu, seketika malam tampak begitu kelabu. Satu demi satu para tamu undangan meninggalkan tempat itu. Hari yang bahagia seketika terjeda sesaat, menyisakan kegelisahan di ujung malam. Di bawah bayang-bayang lampu pesta, pengantin pria itu merasakan kedatangan suatu hari yang sulit. Martono menatap tajam wajah seorang perempuan yang baru dinikahinya hari itu. Wajahnya nampak lugu, dan selalu menebar senyum yang tidak beraturan. Pandangannya lurus ke depan, meski Sang Suami berada di sampingnya. Ia meraba tangan suaminya dengan hangat, seperti sedang memberikan isyarat yang kuat. Seketika Martono terasa sesak napas, dadanya bergetar menahan haru.

"Suamiku, kenapa kamu diam saja? Bicaralah ini hari bahagia kita!" Ucapnya lembut penuh kepastian. Mendengar suara itu Martono menjadi gugup, seketika bibirnya sulit untuk berkata-kata.

"Aku, ada di sini dan selamanya akan bersamamu. Begitu juga denganmu kan?" Ucap kembali Sang Istri kepada Martono.

"Tentu saja. Mulai malam ini kau adalah istriku. Kau tidak perlu khawatir lagi." Jawab Martono kepada Sang Istri. Namun apa yang Ia katakan tidak dapat membohongi perasaannya. Ada sedikit perasaan yang menahan kebahagiaan di hari pernikahannya. Akan tetapi Ia tidak dapat menyampaikannya kepada Sang Istri tercinta.

Namun perempuan selalu dikenal dengan perasaannya yang sensitif. Tidak terkecuali dengan perempuan yang satu ini. Meskipun dengan keterbatasannya, Ia masih bisa mendengar dan merasakan sesuatu yang entah dari panca indra mana. Yang jelas Ia memang tidak dapat melihat, sepanjang yang Ia tatap hanyalah hitam dan gelap. Dan tidak lebih dari itu. Namun Ia begitu peka membaca ruang dan suasana.

"Aku memang tidak melihat senyummu, juga tidak bisa melihat tangismu, tapi aku merasakan ada yang lain. Rasa yang tidak seperti orang yang tengah berbahagia. Jangan kamu simpan sendiri, berbagilah denganku!" Celetuknya kepada Martono, dengan arah pandang yang menatap tajam menembus tembok dan hujan yang terus mengguyur malam.

"Setelah lama kita tidak berjumpa, kini akhirnya kita dipertemukan kembali menjadi pasangan suami istri. Apakah kamu ingat dahulu, masa di mana kita masih anak-anak?" Pungkasnya,  seraya mengajak Sang Istri untuk kembali mengenang masa lalu.

****

Ia adalah Surtini, seorang perempuan sederhana yang baru saja dinikahi oleh Martono. Orang-orang bilang Surtini akan menjadi perawan tua, sebab tidak ada satupun lelaki yang mengharapkan gadis seperti dia. Apalagi di dunia ini, tidak ada pria yang mau menikahi perempuan buta macam dia. Kecuali Martono, seorang pria berpendidikan dan sudah hidup mapan. Sehingga banyak dari para tamu undangan yang bertanya-tanya, kenapa Martono mau menikahi perempuan seperti itu. 

Martono tidak tanpa alasan, Ia memang betul-betul mencintai Surtini apa adanya. Rasa cinta yang muncul dari sebuah persahabatan. Dan dari pengalaman batin mereka selama berkawan. Sekalipun ada hal lain yang menjadi penyebabnya. Martono memang bukan pria tampan, Ia juga tidak terlalu buruk untuk dipandang. Akan tetapi Martono bosan dengan kehidupannya yang mapan, dan penuh kebohongan. Ia ingin kembali hidup dengan kesederhanaan. Itulah kenapa Ia menikahi gadis sederhana seperti Surtini.

Surtini sebenarnya tidak terlalu buruk, Ia memiliki tubuh yang tegak dan sehat. Meskipun Ia buta, kulitnya begitu cerah dan terawat. Bentuk wajahnya oval dengan hidungnya yang tidak terlalu kecil namun terlihat mancung. Jika dilihat dengan seksama sebenarnya Surtini terlihat sangat cantik dan menarik. Hanya saja ekspresi yang tergambar pada wajahnya kerap tidak dapat ditebak. Orang yang baru mengenal Surtini pasti akan dibuat bingung. Sebab Ia selalu membuka sedikit bibirnya sehingga terlihat gigi kelincinya keluar tiap kali berekspresi. Karena pergerakan air muka yang tidak dapat dibaca oleh orang normal biasa, kecantikan yang Surtini miliki pada wajahnya seolah-olah tertutupi. Sehingga selain karena Ia tuna wisma, pemuda biasa tidak tertarik padanya.

Sementara Surtini tidak pernah menduga dalam hidupnya, akan berjumpa dengan seorang pria yang sepanjang hidupnya tidak akan pernah tahu seperti apa bentuk rupanya itu. Seperti apa warna kulitnya, seperti apa bentuk matanya, dan seperti apa bentuk alisnya, Surtini tidak peduli. Karena baginya Martono adalah seorang teman sehidup dan semati. Bukan budak birahi, bukan juga pelampiasan nafsu. Tapi benar-benar sesosok teman yang bisa membuat Surtini seolah-olah dapat melihat dunia melalui cerita-ceritanya.

Yang menambah kuat ikatan mereka adalah bahwa keduanya merupakan teman kecil, lahir dan hidup di desa yang sama. Martono selalu datang membawa cerita, dan menjaga Surtini dari tingkah usil teman sebaya mereka. Bocah-bocah usil di desanya kerap melontarkan kalimat "Si Buta dari Gua Hantu" untuk merundung kemalangan Surtini yang memang tidak bisa melihat apa-apa. Begitu pula sebaliknya, Surtini adalah teman yang sangat baik bagi Martono di saat sedang kesusahan. Ia adalah seorang gadis yang penuh kelembutan dan mau menerima Martono apa adanya. Terlebih saat masih bocah, Martono tidak luput dari hinaan kawan-kawannya. Selain terjerat kemiskinan, Martono juga sudah dari lahir ditinggal mati oleh Sang Ayah. "Tono Si Bocah Bawang" begitulah bunyi kalimat yang sering terlontar dari teman sebayanya. Meskipun sering di maki, Martono masih memiliki Surtini yang dengan ikhlas mendengarkan segala macam kisahnya, dan tidak pernah mempermasalahkan karangan-karangannya itu.

****

Bagi Surtini harta dalam hidupnya adalah keluarga. Mendengar suara-suara dari orang tercintanya di rumah adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Mendengar bunyi perkakas di dapur, menandakan ketekunan dari seorang ibu yang masih dengan tabah merawatnya. Suara palu dan mesin pemotong kayu yang menderu di halaman depan rumah, menandakan ketabahan seorang ayah yang dengan rajin menafkahi anak dan istrinya. Namun sayangnya kedua orang tuanya tidak dapat membuatnya bisa melihat dunia, seperti ketika Martono hadir di dekatnya.

Dahulu kedua orang tua itu sepakat tidak menyekolahkan anaknya. Bukan karena tidak punya biaya. Tapi karena alasan yang lain. Surtini adalah gadis yang baik dan lugu, ayahnya tidak tega jika harus melihat anaknya selalu dihina oleh teman-temannya. Sang Ibu pun sependapat untuk mendidik sendiri putri kesayangannya itu.

Surtini sendiri tidak tahu apa arti bersekolah, Ia juga tidak tahu bagaimana cara bersekolah. Tapi Ia sangat ingin mengenal dunia meskipun tanpa kedua matanya yang normal. Meskipun begitu Surtini tidak perlu khawatir karena Martono pasti akan datang dengan kisah-kisahnya.

Suatu ketika sejak Surtini beranjak dewasa. Kehadiran Martono sangat dirindukannya. Sudah hampir delapan tahun, pria itu tidak menemuinya. Ia hanya mendengar kabar bahwa Martono merantau ke kota dan sudah hidup mapan. Tapi Ia tidak tahu kota yang mana. Semenjak itu pula Ia selalu menunggu kehadiran Martono di depan pintu rumahnya. Kedua orang tuanya selalu cemas tatkala mendapati putri kesayangannya terdiam membisu tanpa senyum di pelataran rumah. Akan tetapi kini kedua orang tua Surtini sudah tua. Kondisi fisiknya pun sudah berkurang. Ingin rasa hati menjodohkan putri kesayangannya dengan lain orang, namun apa daya tidak satupun pemuda yang mau mempersuntingnya.

"Aku tidak ingin menikah, aku hanya ingin bertemu dengan kawanku Martono. Setelah itu mati pun aku tak jadi masalah" ucapnya dalam hati sambil menahan kesepian. Air mata itu menetes di pipinya, kemudian membasahi leher lalu turun ke bajunya. Kedua orang tuanya saling pandang tak kuasa melihat kejadian itu, seolah-olah mengikuti kata hati putrinya.

"Jika Martono kembali kepadamu, aku akan minta Ia untuk menikahimu. Dan jika itu benar-benar terjadi, kau harus berbakti kepadanya layaknya seorang istri. Akan tetapi ayah dan ibu hanya bisa mengusahakan, kepastian hanya milik Sang Pencipta alam. Apakah kamu mau?" Ucap Sang Ayah kepada Surtini, seraya memapahnya masuk ke dalam rumah. Awalnya ucapan itu memang hanyalah dibuat-buat supaya Surtini merasa punya harapan. Karena Sang Ayah sendiri tidak yakin, apakah Martono adalah orang yang sama seperti dahulu. Namun tiba-tiba saja sebuah mobil datang memasuki pelataran rumah. Ia memberikan klakson sebelum turun melalui pintu mobil. Sang Ayah pun keluar, melihat siapa gerangan tamu yang datang. Seketika Sang Ayah terdiam melihat wajah yang tak asing berdiri di depan.

"Kamu, Martono?"

****

Dahulu saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, Martono selalu mendapatkan pesan dari ibunya untuk terus giat belajar. Sang Ibu menganggap hanya dengan pendidikanlah keluarganya akan terlepas dari jerat kemiskinan. Ibunya juga berpesan, bahwa seorang pria sejati bukan dilihat dari rupanya. Tapi dari perangai dan isi kepalanya. Saat itu Martono hanya bisa mengangguk untuk meyakinkan ibunya "Suatu saat selaga mimpi pasti tercapai" ucapnya dalam hati.

Hampir setiap hari, di setiap malam yang penuh mimpi, dan selama berseragam Sekolah Menengah Atas Martono melepaskan lelah dan ngantuknya di bawah meja dagangan. Tepatnya di bawah meja yang di atasnya tergeletak bawang merah, tomat, dan labu hijau yang hampir membusuk kering. Rumah mereka adalah warung yang digunakan untuk mengais rezeki. Asam, manis, pahit, pedas, apapun itu semua rasa kehidupan sudah sama-sama mereka lalui. Membuat tekad yang kuat untuk merubah semuanya.

Namun pada suatu hari yang tidak dapat bisa dilupakan. Di saat semua mimpi dan angan telah di genggaman tangan. Hari-hari paling pahit itu tiba. Tepatnya dua hari sebelum Ibunda Martono menghembuskan napas terakhirnya. Di kota, berkali-kali Martono gagal dalam membina hubungan. Dan berkali-kali pula Martono nampak galau memikirkan nasib jodohnya.

Dua hari sebelum ibunya meninggal, Martono tengah sibuk di rimba raya perkotaan. Selepas pulang dari kantor tempatnya memimpin perusahaan, Martono menemui seorang perempuan yang berencana ingin dipinangnya. Namun apa daya, ternyata pertemuan itu memberikan hasil akhir yang buruk. Si gadis menolak mentah-mentahan lamaran Martono. Ia menganggap bahwa lelaki itu hanyalah sebatas teman saja, dan tidak lebih. Meskipun Martono sudah mapan, namun tetap saja bahwa cinta itu datang dari mata turun ke hati. Rupanya kalimat itu dicerna dengan baik oleh Martono sendiri. Ia memang tidak memiliki wajah yang tampan, seperti idaman para perempuan.

Ia tahu betul, bahwa ucapan Ibunya dahulu tidaklah seluruhnya benar. Meskipun Ia kini sudah pintar, cerdas, dan mapan namun dalam soal hubungan asmara ketampanan seorang pria selalu menjadi hal yang utama. Martono tahu betul hal itu, dan merasa semua perempuan telah naif. Karena buktinya, jika bukan dengan rupa maka mereka akan tertarik dengan uang. Meskipun dengan uang Martono sanggup mencari gadis lain, namun Ia tahu bahwa uang tidak akan sanggup membeli hati.

Seketika Martono tertegun, mengingat kembali apa yang diucapkan Ibunya sebelum menghembuskan napas terakhir. Bahkan dari renungannya, Ia selama ini sadar telah terlalu sibuk memikirkan pekerjaan dan asmaranya ketimbang kesehatan Ibunya sendiri. Sementara sepanjang Ia hidup, hanya Ibunyalah yang benar-benar menemaninya hingga tutup usia. Martono sekali lagi ingin berbakti kepada ibunya, dengan cara apapun. Sontak Martono terdiam sesaat ketika mengingat kembali ucapan terakhir dari ibunya.

"Sekarang kamu harus berhenti merawat ibumu, dan pulanglah ke desa. Cari teman kecilmu yang bernama Surtini itu. Ibu tidak masalah jika kamu menikahinya." Ucap Sang Ibu dengan nada bergetar dan lirih sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.

****

Ruangan kamar pengantin baru itu terasa sesak. Bukan karena ramai oleh ornamen, melainkan kebimbangan di dalam hati keduanya. Seketika Martono menjawab pertanyaan dari Surtini yang sedari tadi sudah diharapkannya.

"Sebetulnya aku menikahimu bukan karena aku mencintaimu. Kita memang berteman sejak kecil, namun kau tidak lebih dari seorang teman saja. Maafkan aku Surtini, aku hanyalah seorang sahabat untukmu. Aku menikahimu karena ingin berbakti kepada ibuku. Terlebih karena berteman denganmu jauh lebih seru dan menyenangkan." Ucapnya dengan nada pelan dan lirih.

"Apa yang kamu katakan? Sungguh ini benar?" Surtini menambahai.

"Sungguh, ini memang kebenarannya. Kau adalah orang yang sangat baik. Selalu mendengar kisah-kisahku tentang tanah rantauan, meskipun aku berbohong padamu kau tak pernah mempermasalahkannya." Pungkasnya dengan perasaan malu.

"Tapi, kau baru saja pulang dari sana dan kembali ke desa dengan bukti atas cerita-ceritamu. Kenapa kau menyesal?" Ucap Surtini memberi penegasan.

"Aku menyesal karena telah membohongi perempuan sebaik dirimu. Dan juga keluargamu. Kau memang berstatus istri melalui catatan sipil, dan di mata agama. Tapi bagaimana aku bisa mencintaimu? Sementara aku menikahimu karena hanya ingin berteman sehidup semati." Ucap Martono dengan lembut dan penuh malu.

"Lalu jika hanya sekedar berbakti kepada orang tuamu, kenapa kau berharap bisa mencintaiku? Menjadi teman pun tidak masalah." Surtini kembali memojokan pertanyaan itu, dengan raut wajahnya yang kemerahan.

"Itu karena aku selalu nyaman bersamamu, dan tidak ada lagi yang sanggup melihatku tanpa harta. Kecuali kamu." Tegasnya menatap tajam wajah Surtini.

"Aku juga tidak tahu apa arti pernikahan. Aku juga tidak tahu apa arti memiliki suami. Yang aku rindukan sepanjang tahun adalah bertemu dengan teman terbaikku. Aku tidak tahu apa itu cinta. Sama sekali aku tidak mengerti. Jadi kamu juga tidak perlu berusaha mencintai, karena kita akan menjadi teman hidup selamanya." Ucap wanita buta itu dengan penuh keyakinan.


*selesai*

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak